21 October 2025, 14:27

Indonesia Jadi Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Nomor 2

Anggota KIR SMPIT Buahati Islamic School Jakarta Ciptakan Bioplastik yang Ramah Lingkungan

Berangkat dari keresahan terhadap masalah lingkungan di sekolah yaitu begitu banyaknya sampah plastik. Sebanyak 20 anggota ekskul KIR (Karya Ilmiah Remaja) yang dibimbing oleh Ibu Desi memulai penelitiannya.

Setiap anggota menyampaikan keresahannya dari apa yang diamati di sekitar.

“Padahal sekolah uda nyuruh bawa tumbler, tapi sampah botol plastik tetap banyak Bu,” ungkap Alvaro

“Ya, terus tempat sampah khusus botol plastik tuh suka penuh karena ada juga yang buang sampah lain dan akhirnya sampah botol minum bercampur,” timpal Himada

“Tapi tempat sampah botol itu emang kapasitasnya sedikit ga sih dan itu ditaruh jauh di pojokan, jadi kadang yang mager suka males buang ke sana,” tambah Farzan.

Masing-masing menyampaikan pendapatnya dari apa yang telah diamati selama ini. Proses yang berjalan alami ini kemudian dengan bantuan guru pembimbing ekskul dikenali siswa sebagai bagian dari Identifikasi Masalah. Dari sinilah penelitian kemudian dimulai.

Siswa dibimbing guru kemudian melakukan proses pencarian data. Dari data kementerian lingkungan hidup, tahun 2023 Indonesia menghasilkan 56,6 juta ton sampah dimana 18% atau 10 juta ton nya adalah sampah plastik. Data BPS tahun 2024, sampah nasional mencapai 64 juta ton dimana 7,68 juta ton nya adalah sampah plastik. Yang juga tidak kalah mencengangkan, hasil riset BRIN mengungkapkan bahwa di tahun 2024, Indonesia menjadi penghasil sampah plastik nomor 2 terbesar di dunia. Dimana lebih dari 60% plastik yang dihasilkan di Indonesia adalah plastik sekali pakai.

Lalu bagaimana solusinya?

“Bu, sebenarnya pemerintah uda buat aturan pembatasan pemakaian kantong plastik, kayak kalau kita belanja ke supermarket itu uda ga dikasih kantong plastik, diarahin bawa goodybag atau beli paperbag disana, sama kayak di sekolah uda ada arahan untuk bawa botol minum, tapi ya tetap aja masih ada yang ga ngelakuin itu dan beli aja, jadi pelarangan penggunaan plastik bukan solusi yang efektif ga sih bu,” Farzan menyampaikan pendapatnya. Diskusi berlanjut untuk menemukan solusinya. Sampai akhirnya ditemukan ide, “kita tuh ga bisa menghindar dari penggunaan plastik untuk kemasan atau membungkus sesuatu, kalau gitu kenapa ga kita buat plastik yang mudah terurai jadi ga beban lagi buat lingkungan,”

“Nah, bioplastik Bu, bisa dari tumbuhan kayak singkong,” Bil Awal turut berpendapat menyampaikan idenya dengan penuh semangat.

Pertemuan demi pertemuan dalam ekskul KIR terus berlanjut. Merancang prosedur percobaan. Melakukan eksperimen. Evaluasi hasil eksperimen. Eksperimen kembali. Dan evaluasi lagi. Beberapa siswa di eksperimen pertama gagal, namun mereka terus mencoba. Alhamdulillah hasilnya mulai terlihat. Ada tiga variabel yang dicoba, Bioplastik dari tepung tapioka, bioplastik dari tepung maizena, dan bioplastik dari campuran tepung tapioka & maizena dengan perbandingan 1:1. Semua varian jenis bioplastik jadi, dan penelitian anggota KIR masih berlanjut, karena hasil bioplastik dari tiga varian memiliki perbedaan, selain itu hasilnya juga masih perlu diuji dari segi elastisitas dan bagaimana daya hancurnya.

Kalau mau tahu kelanjutan penelitian dari tim KIR ini, yuk mampir ke SMPIT Buahati Islamic School Jakarta, nanti kita cerita lebih panjang dan kasih liat gimana penelitiannya.

Topik Berita :